Wednesday, 7 September 2016

SOSOK YANG DIDAMBA



Sebut saja namanya Ani. Ani adalah murid yang paling pendiam di kelasku. Ani tidak begitu pintar dibandingkan dengan teman-temannya yang berada di dalam satu kelas. Setiap hari jika waktu belajar tiba, Ani selalu duduk di kursi paling belakang. Dia lebih nyaman berada di sana agar bisa mengamati guru dan teman-temannya. Namun Ani tidak berani mengungkapkan mengapa ia suka mengamati orang-orang dan lingkungan sekitarnya dengan seksama.
Hari ini adalah hari pertama Ani berada di kelas 4. Seperti biasa, Ani tidak banyak -berbicara dibandingkan dengan teman-temannya yang sudah dengan suara riuh saling bercerita tentang suasana liburan mereka bersama keluarga. Ani lebih senang merapikan laci dan loker belajarnya. Ia menatanya dengan begitu telaten, semua barang-barangnya disusun dengan rapi di dalam locker yang telah ditentukan oleh ustadzah di kelas.
Kemudian, terlihat Ani mulai mencari-cari di bawah mejanya, apakah ada sampah atau barangnya tercecer di bawah meja. Dengan sigap ia segera mengambil secarik kertas kecil yang sudah kumuh tergeletak di lantai, menuju tempat sampah dan membuangnya di sana. Berbeda dengan teman-temannya yang lain. Di saat teman-temannya asyik bersenda gurau di kelas tanpa mau memperdulikan barang maupun kebersihan di kelas, Ani justru sibuk dengan kesendiriannya. Kesibukan yang begitu mulia bagiku, karena dengan spontan ia melakukan hal-hal positif dengan merapikan buku dan memungut sampah tanpa diinstruksikan lagi di kelas.
Aku juga sering memergoki Ani sedang merapikan buku-buku dan alat-alat mengajarku di kelas. Kadangkala di waktu jadwal piketnya tiba, ialah muridku satu-satunya yang paling senang menyapu. Hasil pekerjaannya bersih dan rapi. Aku salut dengan karakternya. Karena belum pernah aku menemui seorang anak kecil baru kelas 4 sudah pandai bekerja dan peduli dengan sekitarnya. Aku sudah dapat membayangkan, bahwa insyaallah anak ini kelak di masa dewasa  tentulah menjadi orang yang sukses.
Kebetulan saat ini, akulah sebagai guru kelasnya. Sejak pertama bertemu dengan murid-muridku yang baru ini, aku sudah menemukan sesuatu yang indah dalam karakter anak didikku itu. Siapakah yang telah berhasil melatihnya, sehingga ia bisa dengan mandirinya memperdulikan barang-barangnya dan mengambil sampah setiap kali ada sampah di dekatnya.
Suatu ketika, kudekati Ani dengan pelan. Kupanggil namanya agar ia mau menemui secara pribadi di meja guruku. Anipun dengan terburu-buru mulai mendekatiku. “Ada apa Zah..?”, tanyannya ingin tahu. Mungkin dia heran, mengapa aku memanggilnya secara pribadi. “Ani, kamu di rumah anak ke berapa?” tanyaku. “Saya anak nomor satu Zah. Saya memiliki adik yang masih kecil-kecil. Adik saya ada dua orang Zah.” Jawabnya dengan santun dan lembut. “Ayahmu bekerja di mana? Dan Ibumu apakah juga bekerja?” tanyaku selanjutnya. Ani terdiam sejenak. Sepertinya dia agak berat mengutarakan tentang kedua orang tuanya. Sambil menunduk, dan dengan suaranya yang lirih Anipun menjawab dengan ragu. “Ayah saya kerjanya memilah-milah barang-barang yang sudah tidak dipakai orang lagi Zah. Namun, ayah selalu mengatakan bahwa pekerjaan ayah adalah pekerjaan yang paling mulia sedunia. Karena ayah sudah menyelamatkan lingkungan.” Aku terkejut mendengar ceritanya. Bagaimana mungkin seorang anak yang maaf aku kira berprofesi sebagao pemulung itu adalah Ani muridku yang sekarang sedang berada di depanku. Bagaimana mungkin, seorang pemulung, yang mungkin untuk makan saja mereka harus memeras keringat mencari rezekinya untuk sesuap nasi, namun mampu menyekolahkan anaknya di sekolah swasta Islam, yang SPPnya saja membuat kita tertegun karena biayanya yang tidak murah.
Untuk memastikan dugaaanku, akupun menanyainya lagi. “Apakah ibumu juga bekerja. Siapa yang membiayaimu sekolah di sini nak..?”. Ani menjawab,”pekerjaan ibu juga sama dengan ayah Zah. Ibu dan ayah sudah menabung sejak saya masih dalam kandungan. Karena ibu dan ayah ingin semua anak-anaknya sekolah di sekolah yang bagus dan dapat memperoleh ilmu agama yang tinggi. Ayah dan ibu hanya ingin agar saya menjadi anak yang sholeh. Karena ayah sering bilang, untuk apa anak ayah jadi sarjana, professor , jadi dokter, tapi nanti di akhir hayatnya, imam masjidlah yang mengurus, mendoakan dan menyolatinya. Ayah juga ingin anak ayah selalu berbuat baik terhadap lingkungan dan alam. Saya memang perempuan Zah. Tapi adik saya dua-duanya laki-laki. Kedua adik saya juga seperti saya zah, tapi mereka pintar mengaji dan menghafal Al Qur’an. Adik saya yang nomor dua sekarang sudah hampir hafal 3 juz, padahal umurnya baru 6 tahun. Dan adik saya yang ketiga sudah bisa menghafal 1 juz. Ibu yang selalu rajin membimbing mereka di rumah setelah pulang bekerja”.
“Saya rajin membersihkan kelas, locker dan laci meja karena saya sering melihat ibu dan ayah rajin membersihkan rumah kami, walaupun rumah kami kecil dan tidak bagus”. “Ayah dan ibu selalu bilang kalau benda-benda yang tidak terpakai kita kumpulkan dengan baik, maka bisa jadi nilai amal untuk buku amal kita di syurga. Ayah dan ibu juga rajin menanam pohon dan tanaman. Walaupun rumah saya sederhana dan tidak begitu bagus, tetapi taman di rumah saya rindang, hijau, asri, dan rapi. Jika ada waktu, cobalah berkunjung ke rumah saya Zah. Nanti saya temani ustadzah berkeliling melihat tanaman-tanaman hasil sentuhan tangan ayah dan ibu. Kadang-kadang saya juga rajin membantu ayah dan ibu membersihkan dan menyiram tanaman. Kami sekeluarga suka sekali bekerja sama.”. Ketika waktu sholat tiba, kedua adik saya ikut sholat berjamaah di masjid, saya dan ibu kadang-kadang ikut juga. Namun, karena pekerjaan rumah masih ada yang harus dikerjakan, sekali waktu kami berdua saya dan ibu sholat berjamaah di rumah saja. Katanya panjang lebar. Aku asyik mendengar penjelasannya. Aku tidak menyangka, masih ada anak seusia dia yang mampu menceritakan secara detail tentang kehidupan keluarganya yang menyenangkan. Di saat orang-orang disekeliling kita sibuk dengan urusannya, tidak ada yang peduli, namun Ani adalah keluarga yang istimewa di mataku. Kedua orang tuanya memang hanya orang biasa, terlalu sederhana malah. Mereka bukan pegawai, mereka bukan guru. Mereka bukan seorang pejabat Negara. Namun, bagiku apa yang telah mereka perbuat walaupun masih dalam lingkungan keluarganya sudah merupakan perbuatan mulia yang dirihoi Allah. Dan sangat jarang kita temui di keluarga-keluarga Indonesia pada umumnya. Inilah sosok yang didamba bagi penyelamat bangsa Indonesia yang tercinta ini. Yaitu sosok yang agamis, peduli dan gemar melakukan kebaikan untuk lingkungannya, walaupun masih dalam lingkup yang kecil. Seandainya saja… yah seandainya…setiap individu dalam 1 juta rakyat Indonesia yang tinggal di Negara ini berbuat dan berpikir sama seperti apa yang dilakukan keluarga Ani, barangkali tidak ada  kebakaran hutan. Tidak ada sampah-sampah berserakan, karena setiap orang memiliki kesadaran mencintai lingkungan, kesadaran mau mengambil, memungut dan memanfaatkan sampah dimanapun ia berada, dan negeri ini ,menjadi negeri yang bersih dan indah bak permadani syurga. Udaranya sejuk dengan bentangan alamnya yang hijau dan subur, dan Negara yang indah makmur bukan hanya sekedar harapan dan cita-cita. Kabut asap yang melanda pulau Sumatra di Indonesia menggambarkan bahwa tidak banyak dari bangsa kita yang peduli. Sehingga terjadi kebakaran hutan di mana-mana. Sungguh memilukan.